Desainer Adrie Basuki baru saja meluncurkan koleksi perdana hiasan dinding kain cacah Adrie Basuki pada 29 Januari 2026 di Lomma, Dharmawangsa, Jakarta Selatan. Kain cacah sisa produksi pakaian kini bertransformasi menjadi art wall elegan berbahan Kain Marmer signature-nya. Pendekatan zero waste ini tidak hanya mengurangi limbah tekstil tetapi juga menciptakan karya seni bernilai tinggi yang menggabungkan estetika marmer abstrak dengan filosofi hidup.
Peluncuran ini menandai perluasan Kain Marmer dari busana ke dekorasi interior. Setiap hiasan dinding kain cacah Adrie Basuki terinspirasi dari ketenangan alam dan perjalanan pribadi, menggunakan teknik patchwork serta tekstur tiga dimensi. Harga koleksi berkisar Rp7 juta hingga Rp15 juta, mencerminkan ketelitian proses handmade yang melibatkan komunitas perempuan. Inovasi ini memperkuat komitmen Adrie terhadap keberlanjutan sekaligus membuka peluang pasar baru di sektor interior design Indonesia.
Latar Belakang Adrie Basuki dan Perjalanan Menuju Keberlanjutan
Adrie Basuki mendirikan labelnya pada 2018 setelah latar belakang di pemasaran dan hubungan internasional. Inspirasi utamanya datang dari ibunya, Ibu Roostiati Basuki, yang mencintai mode dan kerajinan. Awalnya, Adrie memproduksi busana dengan kain tenun tradisional Indonesia seperti Tenun Baduy, Lurik, dan batik. Namun, ia menyadari banyak sisa kain terbuang saat pemotongan pola.
Pengamatan ini mendorongnya berkolaborasi dengan ibu-ibu di Kampung Perca, Bogor, sejak 2018. Komunitas ini awalnya menghadapi tantangan ekonomi berat, termasuk korban pinjaman online. Adrie melatih mereka menjahit dan membuat patchwork dari konveksi idle akibat pandemi. Hasilnya, Kain Marmer lahir pada 2019 sebagai solusi zero waste.
Proses ini melibatkan pencacahan kain berdasarkan warna dan tema, penindihan untuk ketahanan, serta penjahitan ulang dengan sisa benang. Adrie mengembangkan alat pencacah khusus bekerja sama dengan engineer Yogyakarta. Kain Marmer kini menjadi signature yang didaftarkan hak cipta, memenangkan Lomba Perancang Mode 2021 dan tampil di Jakarta Fashion Week.
Filosofi Zero Waste dan Pengembangan Kain Marmer Signature
Adrie Basuki menjadikan zero waste sebagai inti brand-nya. Setiap potongan kain cacah diolah ulang tanpa limbah. Kain Marmer menggabungkan 30% proses mesin dengan 70% kerja tangan perajin perempuan. Hasilnya adalah kain dengan pola marmer abstrak yang unik, kuat, dan estetis.
Filosofi ini mencakup pemberdayaan komunitas dan pelestarian wastra Indonesia. Kain tradisional seperti lurik dan tenun Baduy digabungkan dengan sisa produksi untuk menciptakan tekstur baru. Pendekatan mindful ini juga mencerminkan minat Adrie pada meditasi dan mindfulness, yang ia terapkan dalam desainnya sejak membuka pusat meditasi Roemah Bahagia pada 2020.
Proses Pembuatan Kain Marmer dari Kain Cacah
Pembuatan Kain Marmer dimulai dari pemilahan kain cacah sisa produksi. Kain disortir berdasarkan warna, tekstur, dan kualitas. Selanjutnya, proses cacah menghasilkan potongan kecil yang seragam. Potongan ini ditindih atau dipres untuk meningkatkan ketahanan, lalu dijahit ulang secara manual menjadi lembaran kain baru.
Proses panjang ini memakan waktu berbulan-bulan. Campuran kain daur ulang dengan sedikit kain baru memastikan kekuatan dan fleksibilitas. Hasilnya adalah Kain Marmer dengan pola marmer alami yang tidak bisa direplikasi secara massal. Teknik ini meminimalkan limbah sekaligus menambah nilai ekonomi pada bahan yang sebelumnya dibuang.
Inovasi Terbaru: Hiasan Dinding Kain Cacah Adrie Basuki
Koleksi perdana hiasan dinding kain cacah Adrie Basuki terdiri dari enam art wall. Masing-masing terinspirasi filosofi kehidupan dan keindahan proses Kain Marmer. “Taman Hening” menggunakan Kain Marmer abu-abu dengan motif bunga patchwork. Karya ini melambangkan bahwa keindahan hidup tidak datang secara instan melainkan melalui kesabaran.
Sementara “Labirin” dibuat dari 3 kg kain cacah. Potongan kain dibentuk menjadi lengan baju, dijahit, lalu diarahkan menjadi jalur berliku dengan tekstur timbul. Teknik ini menciptakan dimensi tiga dimensi yang menarik. Setiap hiasan dinding kain cacah Adrie Basuki menjadi karya seni fungsional untuk interior rumah modern.
Teknik Pembuatan Art Wall dan Harga Pasar
Adrie menerapkan patchwork presisi dan manipulasi tekstur pada Kain Marmer untuk art wall. Potongan kain cacah dijahit dengan benang sisa, membentuk pola abstrak atau naratif. Proses ini memerlukan ketelitian tinggi agar hasilnya tahan lama dan estetis. Koleksi ini dijual mulai Rp7 juta hingga Rp15 juta, tergantung ukuran dan kompleksitas desain.
Harga tersebut mencerminkan nilai seni, waktu pengerjaan, dan dampak sosial. Pembeli tidak hanya mendapatkan dekorasi unik tetapi juga mendukung keberlanjutan dan pemberdayaan perempuan.
Dampak Lingkungan dan Pemberdayaan Komunitas Perempuan
Upcycling kain cacah Adrie Basuki mengurangi limbah tekstil yang mencemari lingkungan. Industri fashion global menyumbang jutaan ton limbah setiap tahun. Dengan mengolah sisa produksi, Adrie mencegah pencemaran dan menghemat sumber daya. Selain itu, Kampung Perca kini menjadi destinasi wisata edukasi berkat dukungan pemerintah kota Bogor.
Ibu-ibu di komunitas mendapatkan penghasilan stabil. Mereka beralih dari pekerjaan serabutan ke perajin terlatih. Workshop bulanan dan pelatihan terus berlangsung, menciptakan ekosistem ekonomi berkelanjutan.
Tren Upcycling Fashion dan Dekorasi di Indonesia
Tren upcycling semakin berkembang di Indonesia. Brand lokal mengikuti jejak Adrie dengan memanfaatkan kain tradisional dan sisa produksi. Partisipasi di Jakarta Fashion Week memperkenalkan Kain Marmer ke pasar internasional. Selain itu, konsumen kini lebih sadar lingkungan dan memilih produk bernilai tambah seperti hiasan dinding kain cacah Adrie Basuki.
Di tingkat global, upcycling menjadi bagian dari circular fashion. Adrie Basuki berkontribusi dengan membawa inovasi lokal ke panggung dunia, termasuk scholarship di Istituto Marangoni.
Tips Memulai Upcycling Kain Cacah di Rumah
Anda bisa memulai upcycling kain cacah sendiri. Pertama, kumpulkan sisa kain dari proyek jahit atau baju bekas. Kedua, sortir berdasarkan warna dan tekstur. Ketiga, potong kecil-kecil dan susun pola sederhana seperti patchwork. Selanjutnya, jahit manual atau gunakan mesin untuk membuat wall hanging kecil. Gunakan lem ramah lingkungan jika diperlukan. Praktik ini mengurangi limbah rumah tangga sambil menciptakan dekorasi personal.
Prestasi dan Koleksi Lain Adrie Basuki
Adrie Basuki terus berinovasi. Koleksi seperti “Garden of Joy” dan “Transforma” di JF3 2025 menampilkan teknik slashing dan manipulasi kain. Ia juga merancang menswear dan bridal dengan elemen circular. Prestasi termasuk penghargaan APR Awards dan kolaborasi dengan Uniqlo untuk upcycle pakaian bekas menjadi 40 look stylish.
Kesimpulan
Adrie Basuki membuktikan bahwa kain cacah bisa menjadi hiasan dinding kain cacah Adrie Basuki yang indah dan bernilai tinggi melalui Kain Marmer. Pendekatan zero waste, pemberdayaan perempuan, dan pelestarian budaya menjadikan karyanya inspirasi bagi industri fashion Indonesia. Koleksi art wall terbaru memperluas dampaknya ke dekorasi interior. Kunjungi situs resmi Adrie Basuki atau Kampung Perca untuk melihat proses langsung dan mendukung keberlanjutan ini. Mulai upcycle kain Anda sendiri hari ini untuk kontribusi kecil namun bermakna bagi bumi.

